Guru dan BBM

sisParadigma pembelajaran yang dikelola oleh guru selama ini, ada indikasi bahwa guru masih melanjutkan pembelajaran yang otoriter dan konvensional. Indikasi pembelajaran otoriter dapat dilihat dari bagaimana guru memaksa siswa untuk mengikuti apa kehendak guru. Siswa seringkali tidak diberi alternative untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa. Pembelajaran otoriter juga tidak memperhatikan adanya perbedaan individu (potensi yang dimiliki siswa). Semua siswa dipandang memiliki kemampuan yang sama, sehingga dengan gaya pembelajaran otoriterisme dianggap efektif mentransfer pengetahuan kepada siswa. Gaya pembelajaran otoriterisme juga menganggap siswa seperti kotak kosong. Sedangkan indikasi pembelajan konvensional adalah hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Sumber belajar yang digunakan guru cenderung menjadikan buku dan LKS (penerbit buku) sebagai referensi utama dan satu-satunya.
Fakta pembelajaran konvensional banyak mendapatkan kritik dari ahli pembelajaran dan psikologi pendidikan. Salah satu kritik tersebut adalah pembelajaran konvensional hanya melahirkan siswa-siswa dengan cerdas dari sisi akademik dan tidak memiliki rasa kemanusia dan lingkungan masyarakat. Kritik yang disampaikan oleh tokoh pembelajaran adalah bahwa pembelajaran konvensional miskin dan monoton dari pembelajaran berbasis pada lingkungan tempat siswa beraktivitas selain sekolah. Selanjutnya mulailah dikembangkan pembelajaran yang berbasis pada lingkungan dengan menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Oleh para tokoh pendidikan pembelajaran konvensional cenderung memiliki aliran psikologi behaviorisme dan pembelajaran berbasis lingkungan cenderung memiliki aliran konstruktivisme. Kebijakan pendidikan negeri ini sebenarnya dengan tegas cenderung pada pembelajaran konstruktisme. Hal ini dapat dilihat dari proses dan standar isi dari kebijakkan pendidikan di negeri ini. Pembelajaran menurut pemerintah harus menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran. Artinya adalah siswa tidak lagi menjadi objek pembelajaran teteapi siswa menjadi subjek dalam pembelajaran. Fungsi guru dalam pembelajaran konstruktisme adalah sebagai fasilitator.
Pembelajaran konstruktisme memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan dengan melibatkan siswa secara aktif. Guru dapat memanfaatkan isu-isu yang lagi hangat di tengah-tangah masyarakat sambil mendidik siswa menjadi siswa yang mampu berpikir kritis dan menjadi problem solver (standar isi). Salah satu isu yang menarik saat ini adalah kenaikan BBM oleh pemerintah. Isu ini dapat dijadikan sumber belajar oleh guru pada setiap mata pelajaran yang ia ampu. Kenaikan BBM oleh pemerintah dalam pelajaran matematika dapat diimplementasikan pada pembahasan statistik dan peluang. Pada pembebahasan ini, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplor data-data kenaikan BBM setiap tahun oleh pemerintah. Untuk memancing kemampuan berpikir kritis dan kemampuan problem solving siswa, siswa juga diberikan kesempatan mengolah data-data yang berkaitan dengan sumber daya alam minyak dan gas yang dikelola oleh negera dan asing. Diharapkan dari pembelajaran yang menjadi kenaikan BBM sebagai objek pembelajaran menjadikan pembelajarn matematika bermakna dan lebih dari itu siswa mampu mengkritisi kebijakan pemerintah pemerintah dan mampu memberikan solusi terhadap masalah yang ada. Siswa akan melihat data-data yang diolah secara statistik antara potensi minyak dan gas, pengelolaan oleh pemerintah dan asing serta mengaitkan dengan kebijakan pemerintah. Selanjutnya siswa memberikan solusi terhadap kelangkaan BBM tanpa menaikan BBM. Isu ini juga menarik dibahasa pada pelajaran PKn (Pendidika Kewarganegaraan). Kita guru membahas pada UUD 1945. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk melihat implementasi pasal-pasal yang berkaitan dengan energy dan kepemilikannya. Siswa akan muncul kekritisannya ternyata ada pasal yang dilanggar oleh pemerintah yang menaikkan haraga BBM. Sangat terbuka sekali bagi guru untuk palajaran yang lainnya untuk mengangkat isu kenaikan BBM untuk memunculkan berpikir kritis dan menjadikan siswa sebagai problem solver.
Pembelajaran konstruktisme yang berbasis pada lingkungan ke seharian siswa dalam masyarakat diharapkan mampu menjadikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Tidak hanya pada aspek kognitif yang dikembangkan tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotor siswa. Siswa dilatih untuk berpikir kritis terhadap fakta yang ada ditengah masyarakat. Berpikir kritis pada siswa akan memunculkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving) terhadap masalah yang ada. Diharpkan ketika siswa nantinya menjadi pengambil keputusan dan bernegara, mereka benar-benar cerdas akademik dan cerdas dalam aspek sosial. Akhirnya guru harus menyadari bahwa penguasa yang pembohong, tidak sensitive pada rakyat, berpihak pada asing adalah buah dari tretamen pembelajaran tidak lagi terjadi. Semoga guru-guru sekarang melahirkan calon pemimpin yang adil, amanah dan berpihak pada rakyat. Semoga.
Ketut Sutame, M.Pd
Email: ketut.sutame@gmail.com
Guru di Banjarmasin

Posted on July 30, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: