Angka-Angka UN untuk [Si]apa?

imagesPengumuman kelulusan UN tahun 2013 tingkat SMA, SMP dan SD sederjat telah di publikasikan. Angka-angka yang bertebaran di dunia informasi berhubungan dengan persentase kelulusan tingkat nasional, Persentase kelulusan tingkat provinsi, Persentase sekolah dengan nilai UN tertinggi, Siswa dengan nilai UN tertinggi dan lainya sebagainya. Angka-angka tersebut dapat diakses melalui berbagai sumber pemberitaan.

Setelah hasil diumumkan, respon akan angka-angka UN 2013 beraneka ragam. Respon polos ditunjuk oleh siswa. Mereka seperti biasa melampiaskan emosi mereka dengan cara-cara dunia mereka, meskipun banyak pihak yang mengkritisinya, misalnya masih adanya budaya coret-coret, kebut-kebutan di jalan. Tetapi tidak sedikit siswa yang mengungkapkan emosi kelulusan mereka dengan perkara positif, misalnya mereka melakukan kegiatan sosial. Sementara peserta UN dengan  nilai terbaik tingkat nasional, provinsi dan kota/kabupaten akan diguyur dengan sejumlah hadiah. Sedangkan kaum minoritas yang belum beruntung karena mendapatkan nilai di bawah standar kelulusan, mereka dianggap sebagai kerikil-kerikil yang tidak perlu diapresiasi. Pihak lain yang  berkepentingan dengan angka kelulusan UN siswa adalah pejabat negara. Hasil kelulusan UN dalam taraf baik akan menambah bergaining position untuk kareir politik atau jabatan selanjutnya. Biasanya event tahunan ini akan menjadi tebar pesona.

Banyak hal yang menarik untuk diperbincangkan dari peristiwa UN 2013, dari pelaksanaan hingga hasil dari UN 2013. Pemerintah yang telah menganggarkan Rp 543,4 miliar atau setengah triliun rupiah lebih untuk dana Ujian nasional (UN) 2013 menuai banyak kritikan. Masih segar dalam ingatan adanya  penundaan pelaksanaan UN 2013 di sebelas provinsi karena permasalahan pendistribusian naskah soal UN. Peristiwa ini selanjutnya mengungkap ketidakberesan tender pencetakan naskah soal UN 2013. PT Ghalia Indonesia Printing yang pihak pemenang tender tidak mampu memenuhi cetak naskah Ujian Nasional (UN) SMA di 11 provinsi. Kasus inipun berujung pada pemeriksaan terhadap tujuh pejabat Kementrian Nasional oleh KPK.

Banyak pihak yang merekomendasikan penghapusan Ujian  Nasional.  Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M.  Ihsan, misalnya tokoh yang pro  dengan penghapusan UN sebagai standar kelulusan siswa. Ia mengungkapkan beberapa alasan penghapusan UN yakni berkaitan dengan psikologis anak dan pemborosan APBN untuk anggaran UN. Sedangkan pihak yang pro dengan pelaksanaan UN, diantaranya adalah anggota DPD RI HM Sofwat Hadi. Ia berpendapat bahwa jika UN dihapuskan maka SDM Indonesia akan lemah sehingga tidak mampu bersaing dengan SDM luar negeri. Berlepas dari pro dan kontra pelaksanaan UN, sebenarnya bermuara dari angka kelulusan UN. Adanya kritik dari berbagai pihak terhadap UN direspon oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan seputar standar nilai kelulusan UN.   Pemerintah menetapkan bahwa penentuan Kelulusan Ujian Nasional tidak hanya bertumpu pada nilai UN semata tetapi juga nilai ujian akhir sekolah (UAS). Antara nilai UN dan UAS itu dipadu dan itu akan menjadi penentuan kelulusan UN (Ujian Nasional). Skor nilai UN 0,60 persen, sedangkan UAS 0,40 persen. UAS, juga merupakan perpaduan nilai antara ujian semester, mulai semester 3, 4 dan semester 5. Nilai semester dan UAS ini dipadukan dengan nilai angka 0,40 persen. Selanjutnya rata-rata nilai UN dari seluruh pelajaran yang di UN-kan minimal 5,5.  Bahasa mudahnya jika dipersentasekan nilai penentu kelulusan UN siswa adalah 60% nilai murni UN dan 40% nilai sekolah. Sebenarnya komposisi perbandingan nilai kelulusan ini sama saja menegaskan bahwa siswa tidak usah khawatir dengan UN, karena 99, …% pasti lulus. Mari kita simulasikan standar nilai kelulusan UN 2013 tersebut. Asumsikan pihak sekolah akan memberikan nilai sekolah yang baik, misal 70. Misalnya Ahmad adalah siswa SMK. Ahmad akan lulus UN jika  rata-rata dari mata diklat yang di UN-kan adalah matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia minimal 5,5.  misalnya Ahmad mendapat nilai kelulusan UN 4,0  untuk matematika, ini berarti Ahmad hanya perlu menjawab dengan benar soal UN sebanyak 8 butir soal dari 40 soal yang disediakan. Berdasarkan ketentuan penulisan soal UN yang baik adalah penyebaran kunci jawaban merata pada pilihan jawaban soal pilihan ganda. Jumlah soal UN untuk matematika adalah 40 butir, maka kunci jawaban setiap butir pilihan ganda masing-masing 8 butir soal kunci jawaban a, 8 butir soal kunci b begitu seterusnya. Artinya jika Ahmad menjawab hanya memilih satu pilihan saja (misalnya c) untuk menjawab 40 butir soal  maka Ahmad mendapat nilai kelulusan UN 4,0 untuk matematika. Ada kemungkinan pihak sekolah akan mematok nilai sekolah di atas 7,7. Jika ini terjadi, hanya dengan strategi menjawab konsisten pada satu pilihan jawaban soal UN, maka dipastikan siswa tersebut lulus UN tanpa perjuangan yang berarti. Sehingga wajar sekali dengan standar kelulusan UN seperti tersebut sebanyak 1.573.036 siswa sekolah menengah atas (SMA) sederajat atau 99,48 persen dinyatakan lulus Ujian Nasional (UN) untuk tahun ajaran 2012/2013, sedangkan yang tidak lulus sebanyak 8.260 siswa atau 0,52 persen. Adapun total seluruh peserta UN SMA sederajat 1.581.286 siswa. Selanjutnya Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh dengan bangga menyatakan bahwa permasalahan pelaksanaan UN 2013 tidak ada pengaruh signifikan terhadap tingkat kelulusan UN siswa.

Jika  patokan angka-angka Ujian Nasional dianggap sebagai indakor keberhasilan siswa, maka pertanyaan berikutnya seberapa “sakti”  angka-angka tersebut untuk sama depan siswa? Wacana yang beredar yang menyatakan nilai kelulusan UN menjadi syarat masuk Perguruan Tinggi masih menjadi perdebatan. Apakah nilai kelulusan UN mampu menggambar aspek afektif siswa? Faktanya pendidikan di negeri isi masih berkutat pada aspek akademik, meskipun pemerintah telah mengikludkan aspek afektif dalam pembelajaran di sekolah tetapi tetap aspek kognitif yang paling domian.  Berikut “prestasi-prestasi” yang menggegerkan masyarakat yang dilakukan oleh pelajar. Menurut Polda Metro, pada tahun 2012 terjadi kenaikan kenakalan remaja sebesar 36,33% (http://www.beritasatu.com/). Kenakanan remaja tersebut berkaitan dengan pencurian, narkotik, permekosaan. Hasil Servey Komnas PA (Perlidungan Anak) dengan data sebanyak 14.726 sampel pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar yang hasilnya  adalah 93,7% pernah melakukan seks, 83% pernah menonton video porno dan 21,2% pernah melakukan aborsi (Majalah Detik, edisi 30/Juni 2012).  Beberapa fakta tersebut menunjukan bahwa pelajar telah mengalami demoralisasi yang mengarah pada revolusi seks di kalangan pelajar yang mengantarkan mereka ke masa depan yang suram.

Saatnya pembuat kebijakan benar-benar memperhatikan dunia pendidikan dalam artian mencerdaskan siswa tidak hanya dalam aspek akadmik tetapi memperhatikan aspek-aspek afektif dan sosial. Sejatinya angka-angka UN hanya sebuah ukuran nisbi jika dikaitan mempersiapkan siswa sebagai generasi unggul bukan merupakan indikator keberhasilan siswa. Carut manutnya permasalah pendidikan tentu saja tidak berdiri sendiri. Kehidupan yang materialistik, gaya hidup yang hedonistik, politik yang apologetik, kehidupan beragama    yang sinkretistik merupakan faktor pemicu terpuruknya pendidikan di negeri ini. Mencetak generasi yang unggul  dan tangguh merupakan tanggung jawab bersama. Sebagai manusia yang mampu berpikir dengan sehat, tentu sebuah keharusan mencari solusi yang bersifat mendasar tentang permasalah berbangsa dan bernegara. Hanya sistem kehidupan yang lebih manusiawi dan bermartabat yang memperhatikan kesesuaian dengan akal dan fitrah manusia menjadi sebuah pilihan.

K. Sutame, M.Pd

Guru di Banjarmasin

 

 

 

Posted on July 29, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: