Quo vadis Kurikulum di Negeri Dunia Ketiga

qouSaya termasuk guru yang “sedih” dengan diberlakukannya kurikulum 2013. Saya memiliki beberapa alasan. Alasan tersebut berkaitan dengan orentasi kurikulum dan implementasinya. Berkaitan dengan alasan pertama, saya menilai perubahan kurikulum masih berbasis pada proyek 5 tahun. Mengapa demikian? karena perubahan kurikulum selalu dikaitan dengan adanya menteri baru yang identik dengan “karya baru”. Coba kita berkaca dari kurikulum yang telah wafat. Milyaran rupiah digelentorkan untuk menyukseskan kurikulum baru tapi hasilnya apa? hasil dari kurikulum dapat kita amati dari hasil “celupan” kurikulum yang diberlakukan. Prestasi kriminal sepertinya medominasi opini dan pemberitaan seputar siswa/pelajar. inikah hasil kurikulum yang diberlakukan yang oleh para ahli pendidikan dikatakan sebagai kurikulum yang mencerdaskan siswa?┬áBerkaitan dengan implementasi kurikulum yang telah wafat kemarin, masih mesisakan banyak PR. Proyek peningkatan mutu atau proyek kurikulum yang tidak berkeadilan. Terkesan mubazirnya dana implementasi yang ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Pertengah tahun 2013 kembali diluncurkan  dengan pola bertahap dan segmentasi. Kurikulum ini lagi-lagi sangat bermasalah. Kur 2013 terkesan dipaksakan dan asal-asalan. Terkesan dipaksakan, karena perangkat lunak dan keras tidak mendukung. Misal saja silabus yang bersifat sporadis untuk jenjang SMA dan SMK (yang saya tau). Untuk Kur 2013, silabus hanya pada tiga mata pelajaran yakni matematika, bahasa Indonesia dan Sejarah. Silabus yang sporadis tentu akan berefek pada ikutannya, misalnya buku guru dan siswa. Pertanyaan kritisnya adalah, bagaimana  validitas evaluasi Kur 2013 (jika ada) dapat dipertanggung-jawabkan jika implementasinya tidak integratif? Kur 2013 sepertinya asal-asalan karena analisis materi pelajaran di jenjang pendidikan tidak secara mendalam. Ambil kasus materi matematika SMK dan SMA. Pembelajaran SMK dan SMA itu jauh berbeda dari segi target keberhasilan kurikulum. Lulusan SMK dikatakan berhasil jika lulusannya siap diserap oleh pasar dan SMA dikatan berhasil jika lulusannya melanjutkan ke perguruan tinggi. Materi matematika SMA disamakan dengan SMK. Apa ini tidak aneh? SMK adalah sekolah vokasi yang memiliki karakter pembelajaran lapangan. Mata diklat produktif (SMK) mewajibkan siswanya magang selama 4 bulan. Artinya materi matematika SMK yang kian padat dan menghilangkan program tehnik dan non teknik akan meninggalkan banyak PR. Materi yang tercecer, meskipun materi dipaksakan maka orentasi Kur 2013 akan lenyap karena guru lebih fokus menghabiskan materi.

Sebenarnya kami (guru) mengharapkan kurikulum yang betul-betul dikaji dari falsafah dan budaya bangsa. Budaya bangsa yang berorentasi pada mencerdaskan generasi bangsa. Guru dan Siswa bukanlah kelinci percobaan yang oleh siapa saja dapat mengeksperimen mereka se-enak hatinya. Cobalah berkaca dari penerapan kurikulum yang telah lalu. Kami merindukan pemerintah yang benar-benar tulus ikhlas memajukan pendidikan tanpa ada kepentingan apapun, terlebih lagi pemilu dan partai. Semoga harapan itu masih ada.

About these ads

Posted on July 28, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: